Monday, April 9, 2012

PENGORBANAN SEORANG KEKASIH


“Aku terbangun dalam mimpi yang indah, ku tulis dalam sebuah memori yang tak pernah ku lupakan, kesedihan, kebahagiaan, dan air mata, Tuhan tau bagaimana aku harus menjalani hidup ini dan semua sudah ada yang menentukan manusia hanya bisa menjalankan dan berusaha, seperti aku yang terus menjalani hidup ini dengan kesabaran, mengalah, dan berusaha untuk memperbaiki diri.”tulisan diary Lian
            Pagi hari yang cerah untuk beraktivitas, sama halnya dengan Lian seorang cewe tomboy berumur 17 tahun yang ceria, jutek, cuek, pemurah,egois, baik hati dan pendiam itulah beberapa sifat Lian. Pagi hari ini adalah awal Lian masuk perkuliahan semester satu, Lian ngambil jurusan seni music karna hidupnya dicurahkan ke music dari yang sedih ataupun bahagia, semua Ia curahkan ke dalam music. Dalam perkuliahan Lian bertemu dengan teman baru yang bernama Asti dan Sinta.
“Hay, kenalin aku Lian.”Lian langsung berkenalan
“Hay, gue Sinta.”jawab Sinta
“Aku Asti.”begitupun dengan Asti
“Kita satu kelas kan?”Tanya Lian
“Iyaaa.”jawab serentak Asti dan Sinta (Lian, Asti dan Sintapun masuk ke kelas)
            Saat siang hari mereka makan siang dikantin. Ada selebaran pamphlet yang berisi membutuhkan anggota baru dalam UKM music universitas. Merekapun segera mendaftar menjadi anggota, tapi terlebih dulu harus ada penyeleksian. Lian yang suka memainkan gitar dan bernyanyipun ikut penyeleksian begitupun dengan Asti dan Sinta. Penyeleksian itu diadakan pada hari Minggu. Setelah selesai melihat pamphlet itu dan selesai makan merekapun pulang ke rumah masing-masing.
            Akhirnya hari Minggu datang juga itu yang diharapkan Lian, Asti dan Sinta. Merekapun diseleksi satu per satu. Ketika giliran Lian diseleksi disitu ada seorang cowo bernama Tama ketua UKM music universitas awal bertemunya Lian dan Tama. Akhirnya Lianpun selesai diseleksi hanya tinggal menunggu pengumuman. Pengumuman dibacakan dan Lian, Asti, dan Sinta akhirnya menjadi anggota. Ketika Lian mau pulang tiba-tiba Tama memanggilnya.
‘’Lian… ‘’panggil Tama
‘’Iyaa Kak, kenapa ? ‘’jawab Lian
‘’Gak apa-apa kok, Cuma mau minta nomor HP kamu, boleh ?’’tanya Tama dengan gugup
‘’Aku kira kenapa,hehe. Boleh kok Kak.’’jawab Lian dengan menyerahkan nomor HP
            Waktupun terus berjalan hubungan antara Lian dan Tamapun semakin dalam tapi mereka belum berpacaran. Ketika dikampus Tama melihat Lian dan terus memanggilnya.
‘’Lian, kamu mau gak pergi sama aku hari sabtu besok ?’’tanya Tama dengan gugup
Sambil berfikir, ‘’Kemana Kak ?’’
‘’Nonton acara musik jazz, kamu mau kan ?’’tanya Tama lagi
‘’Hmm iya Kak aku mau.’’jawab Lian dengan tersenyum
‘’Ya udah, aku jemput besok dirumah kamu.’’Tama tersenyum sambil berlari pergi
            Hari Sabtupun akhirnya tiba juga. Lian seorang cewe tomboy berubah feminim. Lian makai gaun hijau terlihat cantik. Tama sampai dirumah Lian dan kaget melihat Lian yang feminim. Merekapun langsung menonton acara musik. Seusai menonton music Tama mengajak Lian ke Bukit Bintang. Tama mengutarakan perasaannya.
‘’Kamu mau gak jadi pacar aku??’’tanya Tama tiba-tiba
Lian kaget mendengar pertanyaan Tama, ‘’Gak salah Kak, apa Kakak bener-bener serius sama aku??’’
‘’Gak salah, Kakak serius sama kamu, Kakak sayang sama kamu semenjak kita bertemu. Gimana Lian??’’jawab Tama dengan penuh keyakinan
‘’Iya Kak, aku mau jadi pacar Kakak asalkan Kakak gak pernah nyakitin perasaan aku.’’jawab Lian
‘’Seriuss Lian?Kakak janji gak bakal nyakitin perasaan kamu.’’Tama tersenyum dan senang
Lian membalas senyum Lian menjawab, ‘’Iya Kak aku serius, aku juga sayang sama Kakak’’.
            Malam itupun mereka resmi berpacaran. Keesokan harinya Lian bertemu dengan Asti dan Sinta. Mereka berdua meledek Lian terus-terusan sampai Lian tersipu malu.
“Pipinya merah nii.’’ledek Asti
“Ada yang jadian nihh, makan-makannya mana?”ledek Sinta juga
“Ihh kalian ini, makan-makan ajah yang dipikirin.”jawab Lian dengan sedikit malu
“Jadian kapan kamu sama Tama?”tanya Sinta
“Sabtu kemaren.”jawab Lian
“Selamat yah Lian.”serentak Asti dan Sinta
“Makasih.”Lian jawab dengan muka kemerahan
            Satu bulan, empat bulan, tujuh bulan sampai akhirnya bulan 14 februari, bulan yang sangat berarti bagi Lian dan Tama karena tanggal 14 Februari merupakan hari jadian mereka. Mereka pergi untuk merayakan hari satu tahun mereka jadian. Satu peritiwapun terjadi dan menyakitkan bagi Lian. Waktu mereka sedang jalan, Tama dan Lian bertemu dengan Citra, dan Citra ternyata adalah mantan Tama. Semenjak peristiwa itu kegundahan hati Lian mulai terusik dengan datangnya orang masa lalu dalam hidup orang yang dia sayang. Dan semenjak itu juga sifat Tama berubah ke Lian. Dan ternyata Tama masih menyimpan kenangan indah bersama Citra mantannya. Hati dan perasaan Lian berkecamuk dan tidak menentu.
            “Apakah ini arti dari kekecewaan, Seseorang yang aku sayang harus berubah ketika masa lalu datang kembali, Apakah ini awal dari penyesalan, Kalau inikah awal dari penyesalan mengapa aku harus berharap lebih kepadanya, Oh Tuhan mengapa rasa ini harus lebih terhadapnya.”coretan tinta Lian
            Hari demi hari pikiran Lian semakin kacau dengan adanya Tama yang berubah kepadanya. Jarang sms.an apalagi telfon. Sibuk sibuk dan sibuk alasan Tama kepada Lian. Untuk membuang segala penatnya Lian, Asti dan Sinta pergi ke Mall. Ketika mereka sedang makan, Asti ngeliat Tama dengan seorang cewe.
“Lian itu Tama kan?”Tanya Asti
Kaget perasaan Lian dengan santai ia menjawab, “iyaaa.” Lalu Lian mengajak mereka pulang
 Setibanya dirumah tiba-tiba Lian jatuh pingsan. Dan keesokan harinya Lian tidak pergi ke kampus karena sakit. Dan Tama datang ke rumah Lian.
“Tumben kamu datang, kemana ajah dari kemaren?”Tanya Lian dengan ketus
“Aku sibuk.”jawab singkat Tama
“Apakah aku harus percaya”celoteh Lian
            Dari peristiwa itu hubungan Tama dan Lian semakin pupus. Hari Minggu Tama dirawat dirumah sakit dan Lian menjenguk Tama yang saat itu Tama sedang koma. Lian kaget mendengar penyakit Tama. Ternyata selama ini Tama mempunyai penyakit yang parah dan dia membutuhkan cangkok sumsum secepatnya karena kalau tidak umurnya tak lama lagi. Lianpun menangis melihat kondisi orang yang dia sayang harus menderita karena penyakit.
            “Tuhan kalau kau sayang aku sembuhkanlah dia untukku, Aku tak ingin melihat dia seperti itu, Aku tak mau kehilangan dia, Aku ingin bersamanya, Kalau kau enggan menyembuhkannya, Biarkan biarkan saja aku yang sakit, Aku lebih memilih dia bahagia daripada dia menderita, Aku sayang dia tulus dalam lubuk hatiku, Dengarlah permintaanku Tuhan.”rintihan perasaan Lian yang tertulis dalam buku diarinya.
            Satu bulan Tama koma dan belum ada pendonor yang tepat, setiap waktu setiap hari Lian selalu setia disampingnya. Dan Lian membisikan sesuatu dalam telinga Tama, “Aku sayang kamu”. Sadar tak sadar Tama mulai menggerakan tangannya dan mengucapkan nama Citra. Betapa sakitnya perasaan Lian, Lian yang setia dan menjaga Tama tak bisa menahan air matanya ketika nama itu yang dia sebut. Terus menerus memanggil nama Citra. Perasaan sedih tak bisa ditahan dalam hati Lian.
            “Inikah kekecewaan yang aku dapat, Menyayangi seseorang yang sudah tak mencintaiku lagi, Menjaga dan Setia ketika sedang jatuh sakit, Tapi mengapa yang kau sebut orang lain, Andaikan kau tau betapa sakit dan hancurnya perasaanku.”tulisan tak bermakna Lian dalam diarinya.
           
“Hari Sabtu besok adalah ulang tahun Tama”terlintas dalam pikiran Lian.
           
Akhirnya keputusanpun Lian ambil.Lian bertekad akan memberi hadiah terindah yang terakhir bagi Tama. Tanpa berpikir panjang Lianpun menemui Citra.
“Aku ingin kau menjaga Tama”Tanya Lian
‘’Me..me..ngapa harus aku.’’jawab Citra dengan resah
‘’Sepertinya Tama masih berharap padamu. Dia memanggil nama-nama kamu terus. Apakah kamu mau menjaga dia untukku.’’tanya Lian
Diam tak ada jawaban dari Citra.
‘’Aku sungguh mencintainya tulus dalam lubuk hatiku yang paling dalam, tapi sekarang berubah ketika kamu datang dalam hubungan kami, Tama masih menaruh harap bagimu dan mungkin masih mencintaimu. Inginku melanjutkan hubungan ini tapi perasaan hatiku mengatakan tidak karena aku tak ingin perasaanku lebih jauh sakit. Aku hanya berpesan, Jaga dia untukku jangan sampai hatinya hancur, Aku ingin pergi dalam kehidupannya dan berikan surat ini kepada Tama.’’
Kata Lian sambil pergi dalam keadaan menangis dan menaruh surat itu didepan Citra.
            Sebelum melakukakn operasi Tama sadar dari komanya dan kaget ternyata yang menjaga adalah Citra. Dan Tama mengucapkan “terimakasih Citra kamu mau menjagaku selama aku koma.”Dan Citra hanya mengangguk. Tama terasa bahagia ketika bersama dengan Citra tanpa ingat Lian kekasihnya sendiri.
            Lian ke Rumah Sakit dan bertemu dengan dokter.
Ternyata Lian akan mendonor cangkok sumsumnya kepada Tama dan meminta dokter tidak memberitahukan kepada siapa-siapa. Sesudah semua pemeriksaan selesai dan ternyata cocok. Dan satu hari sebelum ulang tahun Tama tepatnya pukul 1 dini hari, dilakukan operasi cangkok sumsumnya karena itu permintaan Lian. Dan ternyata operasinya berhasil dan lancar. Beberapa saat kemudian setelah beristirahat sebentar Lian ke ruangan Tama sambil menangis dan membisikkan kata “Aku sayang kamu, ini hadiah terakhir buat kamu dihari ulangtahun kamu, Mengembalikan cintamu dan nyawamu, Maafkanlah aku tapi aku harus pergi.”sambil menangis dan beranjak pergi.
            Keesokan harinya Tama sadar dari operasinya. Dia membuka mata perlahan-lahan lalu ditatapnya wajah Citra.
“Citra kau setia menungguku hingga aku sampai sembuh.”kata Tama sambil memegang tangan Citra. Terlintas dalam pikirannya.
“Lian .. Dimana Lian?? Mengapa dia tak menjagaku tapi kenapa harus kamu Citra yang menjagaku.” Tanya Tama dengan nada kecewa
Citra hanya menunduk dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Kenapa diam. Jahat sungguh terlalu jahat Lian terhadapku, kekasihnya sakit malah tak menjaga, aku tak pernah berpikir dalam pikiran dia, tak punya hati.”celoteh Tama sambil bentak-bentak.
“Dia selalu menjagamu selama kau koma.”sahut Ibu Tama
“Mana buktinya Ibu?”ucap Tama
“Dia kecewa terhadapmu, ketika kau sadar dari koma yang kau panggil bukan Lian melainkan Citra, Lian menyuruh Citra agar menjagamu.”jelas Ibu Tama
“Ya Ampun, MaafkanLah aku. Dimana sekarang Lian?”Tanya Tama dengan wajah ingin menangis
“Ini ada surat buat kamu dari Lian.”jawab Citra sambil menyerahkan sura
Buat Sayangku Tama ..
            Aku bahagia mengenalmu ..
            Tapi maafkan aku ,,
            Aku harus pergi ..
            Selamat ulangtahun Sayang ,,
            Ku berikan Dia hadiah terindah buat kamu ..
            Selamat tinggal ..

            Itulah sepucuk surat dari Lian ke Tama, Tama hanya terdiam dan menangis. Dan Dokter masuk keruangan Tama. Tiba-tiba Tama tanya kepada dokter “siapa yang mendonorkan sumsumnya kepada saya dok?”. Doker menjawab “Maaf ini rahasia.” Sambil menangis dan berteriak “siapa siapa siapa doker?” akhirnya dokterpun berkata “Seorang anak perempuan bernama Lian”. Hati dan perasaan Tama tak menentu. Tama akhirnya keluar dari rumah sakit dan mencari-cari Lian ke rumah dan kampusnya, namun tetap saja tak ada Lian. Ternyata waktu Lian membisikkan kata terakhir buat Tama, ternyata keadaan Lian belum sembuh total dari operasinya, Lian menyetir sendiri mobilnya dan mobil itu menabrak, dan akhirnya Lianpun meninggal. Tama pun menangis dan terus berkata “Maafkan aku, dan terima kasih hadiah yang kau beri untukku.”

                                                                         TAMAT

Friday, January 6, 2012

TAMAN

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta kembali. Kapan, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berput

Gerimis mempercepat kelam
Ada juga kelepak elang menyinggung muram
desir hari liar berenang menemu bujuk pangkal akanan
Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri.
Berjalan menyisir semenanjung,
masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat,
sedu penghabisan bisa terdekap

KABAR DARI LAUT

Aku memang benar tolol ketika itu
mau pula membikin hubungan dengan kau
lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu
berujuk kembali dengan tujuan biru
Di tubuhku ada luka sekarang
bertambah lebar juga, mengeluar darah
di bekas dulu kau cium nafsu dan garang
lagi aku pun sangat lemah serta menyerah

Hidup berlangsung antara buritan dan kembali
Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang
Dan tawa gila pada whisky tercemin tenang

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang atau memuji
Atau diantara mereka juga terdampar
Burung mati pagi hari di sisi sangkur?

Kata Mutiara

Setiap kali aku pergi ke ladang itu aku kembali merasa kecewa ,, tanpa mengetahui penyebab kekecewaanku ..
Setiap kali aku memandang ke langit yang kelabu aku merasakan hatiku mengkerut ..
Setiap kali aku mendengar nyanyian burung-burung dan celoteh musim semi aku merasa menderita tanpa mengetahui sebab penderitaanku ..

#Sayap-sayap Patah _ Kahlil Gibran

Cinta dan Kesunyian

Kehidupan cinta tak selamanya senantiasa berselimutkan manisnya madu atau pun kejora bebintangan ..
Bahkan, adakalanya, cinta menimpakan rengsa dan nestapa ..
Itulah saat di mana cinta bertaburkan kesunyian yang dibuahkan perpisahan ..
Kerinduan, kenangan dan romantika menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rinai-rinai kesunyian yang menghunjam seutas nafas cinta ..

Tapi, janganlah berduka !!
Justru Sang Nabi mengungkapkan bahwa cinta tak akan pernah berhasil menemukan wajah kebahagiaannya yang hakiki bila belum ditikam oleh penderitaan yang bersumber dari kesunyian ..

Kahlil Gibran

Sunday, January 1, 2012

AJAKAN KEKASIHKU

Kemarilah, kekasihku,
Kemarilah ..., dan jangan tinggalkan aku,
kehidupan lebih lemah daripada kematian,
tetapi kematian lebih lemah daripada cinta ...
Engkau telah membebaskanku, ...
dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang telah
memutuskan rantai-rantaiku
Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencoba
untuk membohongi dan yang telah menyelimuti
rahasia-rahasia hatiku.
Tutuplah mataku yang redup ini dengan jari-jemarimu yang berlumuran darah
Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu
di tangan kananku dan katakan pada mereka bahwa aku
telah bunuh diri karena putus asa dan cemburu.
Aku hanya mencintaimu, ... dan bukan yang lain,
aku berfikir bahwa tadi lebih baik bagiku untuk
mengorbankan hatiku, kebahagianku, kehidupanku
daripada melarikan diri bersamamu pada malam pernikahanmu
Ciumlah aku, kekasih jiwaku .. sebelum orang-orang melihat tubuhku ...
Ciumlah aku ... Ciumlah ...

KAHLIL GIBRAN

GORESAN TAK BERTEMA

Mencoba menuangkan hati
Pada goresan hitam di atas putih
Walau ku hanya seorang anak manusia
Yang tak mengerti apa itu arti cinta?
Alunan waktu yang menyertaiku
Tlah menghadirkan cinta dalam hidupku
Satu demi satu rasa itu merengkuh relung jiwa
Dan merampas semua bagian
Saat kau datang dalam tiap mimpiku
Andai ku mampu
Inginku menantang dunia yang selalu menjeratku
demgam se, ia amgin cinta yang begitu membebaniku
Engkau yang ku sayang
kini ku mengerti
bahwa ku berada pada sisi yang salah
yang teramat sempurna untuk kuraih
Semua satu bagian dalam diriku
berkata?
Aku hanyalah sesuatu yang tak berarti dalam harimu
atau bahkan
Hanya seperti batu yang tak berguna
Hingga dengan mudah kau hempaskan
Mungkin kau tak mempercayai apa itu cinta sejati
Hingga kau hanya memandangnya sebelah mata
Cintaku yang terasa hampa tanpa hadirmu
Mungkin bila masih ku diberi kesempatan
Hanya satu kali seumur hidup untuk berkata jujur
Saat inilah akan kuungkapkan
"Bahwa aku menyayangimu
Mencintaimu melebihi diriku"

Kahlil Gibran

Thursday, December 1, 2011

Biografi Kahlil Gibran

Kahlil Gibran adalah penyair ternama yang karya-karyanya mencerminkan perpaduan budaya timur dan barat, penuh analogi, disukai berbagai kalangan dan populer di berbagai belahan dunia. Kisah kehidupannya banyak diwarnai penderitaan dari segi ekonomi, ditinggal orang-orang tercinta hingga kisah cinta yang melankolis dengan kekasihnya May Ziadah.

Gibran lahir 6 Desember 1883 dalam keluarga miskin di Bisshari,sebuah kota kecil di Lebanon Utara. Keluarganya adalah penganut Kristen Maronit, suatu mazhab yang bernaung di bawah gerja Katholik Roma. Karena kesulitan ekonomi di Lebanon, kelaurga Gibran pindah ke Boston Amerika Serikat tahun 1894 walaupun keadaan ekonomi mereka juga tidak berubah banyak. Bakat sastra Gibran mulai terlihat sejak ia bersekolah di Boston (1895-1897). Tahun 1901 Gibran kembali ke Lebanon dan bersekolah di Madrasah Al-Hikmah Beirut. Setelah lulus ia mengembara ke Yunani, Italia, Spanyol dan akhirnya menetap di Paris untuk belajar seni. Gibran kembali ke Boston karena mendapat kabar ibunya sakit dan akhirnya meninggal tanun 1903. Sebelumnya adiknya Sultana dan kakaknya Boutros juga meninggal. Kematian orang-orang terdekat yang sangat disayangi ini sangat membekas dalam jiwa Gibran yang terekspresi melalui karya-karyanya. 

Gibran hidup dalam dua kutub budaya (barat dan Timur) sehingga ia menjadi manusia kosmopolit yang tidak terikat pada kebudayaan dan kebangsaan tertentu.Pemikirannya bersifat global dan tidak terikat oleh ras, suku,kedaerahan atau negara tertentu. Ia hanya terikat pada perjuangan hak dan martabat manusia tanpa memandang batas bangsa dan budaya. Gibran juga seorang pelopor reformasi sosial yang berdampak nyata dalam negerinya Lebanon. Ia banyak melancarkan kritik sosial yang sangat tajam melalui tulisan-tulisannya. Dampaknya, karya Gibran Spirits Rebellious di bakar di muka umum oleh kalangan gereja dan Gibran mendapat hukuman ekskomunikasi dari pimpinan gerja Beirut.Gibran menganggap kaum geraja penuh ketidakadilan dan kemunafikan. Ia menyatakan untuk apa dibangun geraj yang megah sementara para penganutnya hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Mengapa para pendeta hidup mewah makan roti segar dan anggur lezat sementara para penganutnya hidup menderita. Ia mengkritik kaum biarawan dengan kata-kata pedas: “Yesus mengutus kalian sebagai domba di tengah serigala; lantas apa yang menjadikan kalian ibarat serigala di tengah domba-doma?”.

Kehidupan cinta Gibran juga sangat melankolis. Ia menjalin kisah cinta dengan dua wanita yaitu Marry Haskell dan May Zaidah. Mary adalah wanita Amerika yang umurnya 10 tahun lebih tua dari Gibran dan banyak mewarnai karya-karyanya. May Zaidah adalah wanita Arab kelahiran Nazareth yang menjalin hubungan cinta melalui surat-surat sampai akhir hayat Gibran. Hubungan cinta dengan May digambarkan sangat platonis. Kisah yang tidak terbayangkan karena Gibran tak pernah mengetahui wajah May bahkan melalui selembar foto. Gibran meninggal dunia di Boston Amerika Serikat 10 April 1931. Beberapa karya populernya antara lain: Sang Pralambang (1920), Sang Nabi (1923), Pasir dan Buih (1926), Taman Sang Nabi (1933), Jiwa-Jiwa Pemberontak (1948), Suara Sang Guru (1958), Potret Diri (1959) dan Sayap-sayap patah.

Referensi:
Buku 100 tokoh paling berpengaruh abad 20
Penerbit Nuansa

BIOGRAFI RADITYA DIKA

Dika Angkasaputra Moerwani atau yang biasa kita kenal dengan nama Raditya Dika adalahseorang penulis asal Indonesia. Di Indonesia, Raditya Dika dikenal sebagai penulis buku-bukujenaka.  Pria yang akrab disapa Radith kelahiran Jakarta, 28 Desember 1984 ini memulai karirnyasebagai penulis melalui blog pribadinya (www.kambingjantan.com ) yang sekarang menjadi (www.radityadika.com) yang kemudian dibukukan.

Buku pertama yang mengangkat dirinya berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan HarianPelajar Bodoh (2005) masuk kategori best seller. Buku yang menceritakan kehidupan Dikung (Raditya Dika) saat kuliah di Australia, kisah-kisahnya sebagai pelajar Indonesia yang berkuliahdi luar negeri. Buku ini digolongkan sebagai genre baru. Saat ia merilis buku pertamanya,memang belum banyak yang masuk ke dunia tulisan komedi. Apalagi bergaya diari pribadi(personal essay).

Buku keduanya berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006. Buku kedua inimenggunakan format cerita pendek (cerpen) yang bercerita mengenai pengalaman cinta Radithyang sepertinya selalu tidak beruntung.

Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29Agustus 2007. Buku ketiga ini mengisahkan Radith yang pernah menjadi badut Monas dalamsehari, mengajar bimbingan belajar, lalu saat Radith dikira hantu penunggu WC, sampai ceritamengenai kutukan orang NTB. Sementara, buku keempatnya berjudul Babi Ngesot : Datang TakDiundang Pulang Tak Berkutang terbit pada bulan April 2008.

Perjalanan dan Pemikiran

Radith mengawali keinginan untuk membukukan catatan hariannya di blog pribadinya saat iamemenangi Indonesian Blog Award. Radith juga pernah meraih Penghargaan bertajuk TheOnline Inspiring Award 2009 dari Indosat. Dari pengalaman itu, ia cetak (print out) tulisan-tulisannya di blog kemudian ia tawarkan naskah cetakan itu ke beberapa penerbit untuk dicetaksebagai buku. Awalnya banyak yang menolak, tapi kemudian ketika ia ke Gagasmedia, sebuah penerbit buku, naskah itu diterima, meski harus presentasi dahulu.

Radit sukses menjadi penulis karena ia keluar dari arus utama (mainstream). Ia tampil dengan genre baru yang segar. Yang membuat ia berbeda dari penulis lain adalah ide nama binatang yang selalu ia pakai dalam setap bukunya. Dari buku pertama hingga terbaru, semua judulnya mengandung nama binatang. Bagi Radith, ini adalah selling point-nya.

Bagi Radith, sebagai penulis tetap harus memiliki inovasi. Sebenarnya, pada bulan-bulan pertama,buku pertamanya tidak terlalu laku. Ini, menurut Radith, adalah risiko masuk dalam genre baru. Radith kemudian gencar berpromosi di blog yang ia kelola. Selain itu ia juga gencar promosi dari mulut ke mulut (word of mouth). Radith meminta pembacanya untuk berfoto dengan buku pertamanya itu kemudian dikirim ke Radith. Jadilah ini sebuah strategi pemasaran yang bisa mengelola pembaca sebagai target pasarnya. Menurut Radith, dalammenulis, tidak serta-merta setelah buku terbit, urusan selesai. Kemudian, pemasaran diserahkankepada penerbit.

Sebaliknya, penulis seharusnya juga menjadi pemasar bagi bukunya sendiri karena sebenarnyapenulis juga seniman. Penulis yang kreatif akan menjadikan bukunya sebagai produk yang baginyaharus bisa laku di pasaran. Meskipun pada dasarnya buku adalah bukan barang komersial, tetapi memandang buku sebagai sebuah produk berilmu yang peRlu dipasarkan adalah sebuah hal yang perlu dilakukan saat ini.

Menjadi penulis sukses bukan berarti tidak ada hambatan. Menurut Radith, hambatan bukanhanya dari industri buku, melainkan juga dari hal-hal yang sifatnya diagonal. Artinya, lawan dariindustri buku bisa jadi bukan industri buku lain tapi industri lain yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali seperti hiburan (entertainment), makanan, dan lain-lain. Sebagai contoh, bila ada anak muda memiliki uang 50.000 rupiah, belum tentu ia akan membelanjakannya untuk buku. Bisa jadi uang itu digunakan untuk menonton film di bioskopatau membeli makanan cepat saji. Dan yang jelas, buku bukan pilihan utama.

Bagi Radith hal ini memang sudah lazim. Yang perlu dilakukan adalah terus berkreasi dan bertindak kreatif.  Baginya, yang ada adalah kunci untuk berinovasi. Tekanan kompetitor bisamenjadi motivasi untuk terus memberikan ide-ide baru dan menggali kemampuan.

Radith kini meneruskan studinya di program ekstensi Fakultas Ilmu Sosial dan Politikdi Universitas Indonesia. Selain itu, kini ia berkarier di penerbit buku Bukune. Radith bertindaksebagai direktur juga sebagai direktur dan pemimpin redaksi.

Karya Tulis
2005 - Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
2006 - Cinta Brontosaurus
2007 - Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa
2008 - Babi Ngesot
 2010 - Marmut Merah Jambu

Hal-hal yang bisa kita teladani dari Raditya Dika ialah perjuangannya dalam mencapai kesuksesan, dan juga kekreatifan yang penting dalam menjual karya kita.   

Biografi Andrea Hirata

Andrea Hirata Seman Said Harun lahir di pulau Belitung 24 Oktober 1982, Andrea Hirata sendiri merupakan anak keempat dari pasangan Seman Said Harunayah dan NA Masturah. Ia dilahirkan di sebuah desa yang termasuk desa miskin dan letaknya yang cukup terpelosok di pulau Belitong. Tinggal di sebuah desa dengan segala keterbatasan memang cukup mempengaruhi pribadi Andrea sedari kecil. Ia mengaku lebih banyak mendapatkan motivasi dari keadaan di sekelilingnya yang banyak memperlihatkan keperihatinan.

Nama Andrea Hirata sebenarnya bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Sejak lahir ia diberi nama Aqil Barraq Badruddin. Merasa tak cocok dengan nama tersebut, Andrea pun menggantinya dengan Wadhud. Akan tetapi, ia masih merasa terbebani dengan nama itu. Alhasil, ia kembali mengganti namanya dengan Andrea Hirata Seman Said Harun sejak ia remaja.

“Andrea diambil dari nama seorang wanita yang nekat bunuh diri bila penyanyi pujaannya, yakni Elvis Presley tidak membalas suratnya,” ungkap Andrea.
Sedangkan Hirata sendiri diambil dari nama kampung dan bukanlah nama orang Jepang seperti anggapan orang sebelumnya. Sejak remaja itulah, pria asli Belitong ini mulai menyandang nama Andrea Hirata. Andrea tumbuh seperti halnya anak-anak kampung lainnya. Dengan segala keterbatasan, Andrea tetap menjadi anak periang yang sesekali berubah menjadi pemikir saat menimba ilmu di sekolah. Selain itu, ia juga kerap memiliki impian dan mimpi-mimpi di masa depannya.

Seperti yang diceritakannya dalam novel Laskar Pelangi, Andrea kecil bersekolah di sebuah sekolah yang kondisi bangunannya sangat mengenaskan dan hampir rubuh. Sekolah yang bernama SD Muhamadiyah tersebut diakui Andrea cukuplah memperihatinkan. Namun karena ketiadaan biaya, ia terpaksa bersekolah di sekolah yang bentuknya lebih mirip sebagai kandang hewan ternak. Kendati harus menimba ilmu di bangunan yang tak nyaman, Andrea tetap memiliki motivasi yang cukup besar untuk belajar. Di sekolah itu pulalah, ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki dengan sebutan Laskar Pelangi.

Di SD Muhamadiyah pula, Andrea bertemu dengan seorang guru yang hingga kini sangat dihormatinya, yakni NA (Nyi Ayu) Muslimah.
“Saya menulis buku Laskar Pelangi untuk Bu Muslimah,” ujar Andrea dengan tegas kepada Realita.
Kegigihan Bu Muslimah untuk mengajar siswa yang hanya berjumlah tak lebih dari 11 orang itu ternyata sangat berarti besar bagi kehidupan Andrea. Perubahan dalam kehidupan Andrea, diakuinya tak lain karena motivasi dan hasil didikan Bu Muslimah. Sebenarnya di Pulau Belitong ada sekolah lain yang dikelola oleh PN Timah. Namun, Andrea tak berhak untuk bersekolah di sekolah tersebut karena status ayahnya yang masih menyandang pegawai rendahan. “Novel yang saya tulis merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang,” tutur Andrea yang memberikan royalti novelnya kepada perpustakaan sebuah sekolah miskin ini.

Tentang sosok Muslimah, Andrea menganggapnya sebagai seorang yang sangat menginspirasi hidupnya. “
Perjuangan kami untuk mempertahankan sekolah yang hampir rubuh sangat berkesan dalam perjalanan hidup saya,” ujar Andrea.
Berkat Bu Muslimah, Andrea mendapatkan dorongan yang membuatnya mampu menempuh jarak 30 km dari rumah ke sekolah untuk menimba ilmu. Tak heran, ia sangat mengagumi sosok Bu Muslimah sebagai salah satu inspirator dalam hidupnya. Menjadi seorang penulis pun diakui Andrea karena sosok Bu Muslimah. Sejak kelas 3 SD, Andrea telah membulatkan niat untuk menjadi penulis yang menggambarkan perjuangan Bu Muslimah sebagai seorang guru. “Kalau saya besar nanti, saya akan menulis tentang Bu Muslimah,” ungkap penggemar penyanyi Anggun ini. Sejak saat itu, Andrea tak pernah berhenti mencoret-coret kertas untuk belajar menulis cerita.

Andrea Hirata, Biografi, novelis, penulis
Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, Andrea lantas memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta selepas lulus SMA. Kala itu, keinginannya untuk menggapai cita-cita sebagai seorang penulis dan melanjutkan ke bangku kuliah menjadi dorongan terbesar untuk hijrah ke Jakarta. Saat berada di kapal laut, Andrea mendapatkan saran dari sang nahkoda untuk tinggal di daerah Ciputat karena masih belum ramai ketimbang di pusat kota Jakarta. Dengan berbekal saran tersebut, ia pun menumpang sebuah bus agar sampai di daerah Ciputat. Namun, supir bus ternyata malah mengantarkan dirinya ke Bogor. Kepalang tanggung, Andrea lantas memulai kehidupan barunya di kota hujan tersebut.

Beruntung bagi dirinya, Andrea mampu memperoleh pekerjaan sebagai penyortir surat di kantor pos Bogor. Atas dasar usaha kerasnya, Andrea berhasil melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Merasakan bangku kuliah merupakan salah satu cita-citanya sejak ia berangkat dari Belitong. Setelah menamatkan dan memperoleh gelar sarjana, Andrea juga mampu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 Economic Theory di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.

Berkat otaknya yang cemerlang, Andrea lulus dengan status cum laude dan mampu meraih gelar Master Uni Eropa. Sekembalinya ke tanah air, Andrea bekerja di PT Telkom tepatnya sejak tahun 1997. Mulailah ia bekerja sebagai seorang karyawan Telkom. Kini, Andrea masih aktif sebagai seorang instruktur di perusahaan telekomunikasi tersebut. Selama bekerja, niatnya menjadi seorang penulis masih terpendam dalam hatinya. Niat untuk menulis semakin menggelora setelah ia menjadi seorang relawan di Aceh untuk para korban tsunami. “Waktu itu saya melihat kehancuran akibat tsunami, termasuk kehancuran sekolah-sekolah di Aceh,” kenang pria yang tak memiliki latarbelakang sastra ini.

Kondisi sekolah-sekolah yang telah hancur lebur lantas mengingatkannya terhadap masa lalu SD Muhamadiyah yang juga hampir rubuh meski bukan karena bencana alam. Ingatan terhadap sosok Bu Muslimah pun kembali membayangi pikirannya. Sekembalinya dari Aceh, Andrea pun memantapkan diri untuk menulis tentang pengalaman masa lalunya di SD Muhamadiyah dan sosok Bu Muslimah. “Saya mengerjakannya hanya selama tiga minggu,” aku pria yang berulang tahun pada 24 Oktober ini.

Naskah setebal 700 halaman itu lantas digandakan menjadi 11 buah. Satu kopi naskah tersebut dikirimkan kepada Bu Muslimah yang kala itu tengah sakit. Sedangkan sisanya dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya dalam Laskar Pelangi. Tak sengaja, naskah yang berada dalam laptop Andrea dibaca oleh salah satu rekannya yang kemudian mengirimkan ke penerbit.

Bak gayung bersambut, penerbit pun tertarik untuk menerbitkan dan menjualnya ke pasar. Tepatnya pada Desember 2005, buku Laskar Pelangi diluncurkan ke pasar secara resmi. Dalam waktu singkat, Laskar Pelangi menjadi bahan pembicaraan para penggemar karya sastra khususnya novel. Dalam waktu seminggu, novel perdana Andrea tersebut sudah mampu dicetak ulang. Bahkan dalam kurun waktu setahun setelah peluncuran, Laskar Pelangi mampu terjual sebanyak 200 ribu sehingga termasuk dalam best seller. Hingga saat ini, Laskar Pelangi mampu terjual lebih dari satu juta eksemplar.

Penjualan Laskar Pelangi semakin merangkak naik setelah Andrea muncul dalam salah satu acara televisi. Bahkan penjualannya mencapai 20 ribu dalam sehari. Sungguh merupakan suatu prestasi tersendiri bagi Andrea, terlebih lagi ia masih tergolong baru sebagai seorang penulis novel. Padahal Andrea sendiri mengaku sangatlah jarang membaca novel sebelum menulis Laskar Pelangi. Sukses dengan Laskar Pelangi, Andrea kemudian kembali meluncurkan buku kedua, Sang Pemimpi yang terbit pada Juli 2006 dan dilanjutkan dengan buku ketiganya, Edensor pada Agustus 2007. Selain meraih kesuksesan dalam tingkat penjualan, Andrea juga meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007.

Andrea Hirata, Biografi, novelis, penulis
Lebaran di Belitong. Kini, Andrea sangat disibukkan dengan kegiatannya menulis dan menjadi pembicara dalam berbagai acara yang menyangkut dunia sastra. Penghasilannya pun sudah termasuk paling tinggi sebagai seorang penulis. Namun demikian, beberapa pihak sempat meragukan isi dari novel Laskar Pelangi yang dianggap terlalu berlebihan. “Ini kan novel, jadi wajar seandainya ada cerita yang sedikit digubah,” ungkap Andrea yang memiliki impian tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia yang terletak di pegunungan Himalaya. Kesuksesannya sebagai seorang penulis tentunya membuat Andrea bangga dan bahagia atas hasil kerja kerasnya selama ini.

Meski disibukkan dengan kegiatannya yang cukup menyita waktu, Andrea masih tetap mampu meluangkan waktu untuk mudik di saat Lebaran lalu. Bahkan bagi Andrea, mudik ke Belitong di saat Lebaran adalah wajib hukumnya. “Orang tua saya sudah sepuh, jadi setiap Lebaran saya harus pulang,” ujar Andrea dengan tegas. Di Belitong, Andrea melakukan rutinitas bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat lainnya sembari memakan kue rimpak, kue khas Melayu yang selalu hadir pada saat Lebaran. Kendati perjalanan ke Belitong tidaklah mudah, karena pilihan transportasi yang terbatas, Andrea tetap saja harus mudik setiap Lebaran tiba. Terlebih lagi, bila ia tak kebagian tiket pesawat ke Bandara Tanjung Pandan, Pulau Belitong, maka mau tak mau Andrea harus menempuh 18 jam perjalanan dengan menggunakan kapal laut.

Perasaan bangga dan bahagia semakin dirasakan Andrea tatkala Laskar Pelangi diangkat menjadi film layar lebar oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. “Saya percaya dengan kemampuan mereka,” ujarnya tegas. Apalagi, film Laskar Pelangi juga sempat ditonton oleh orang nomor satu di negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. “
Kini Laskar Pelangi memiliki artikulasi yang lebih luas daripada sebuah buku. Nilai-nilai dalam Laskar Pelangi menjadi lebih luas,” tutur Andrea
Menjadi seorang penulis novel terkenal mungkin tak pernah ada dalam pikiran Andrea Hirata sejak masih kanak-kanak. Berjuang untuk meraih pendidikan tinggi saja, dirasa sulit kala itu. Namun, seiring dengan perjuangan dan kerja keras tanpa henti, Andrea mampu meraih sukses sebagai penulis memoar kisah masa kecilnya yang penuh dengan keperihatinan.

Referensi :

- http://fajar-aryanto.blogspot.com/2010/02/andrea-hirata-penulis-novel-laskar.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata

Biografi Putu Wijaya


Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 65 tahun) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Pendidikan
- SR, Tabanan (1956)
- SMP Negeri, Tabanan (1959)
- SMA-A, Singaraja (1962)
- Fakultas Hukum UGM (1969)
- ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
- LPPM, Jakarta (1981)
- International Writing Programme, Iowa, AS (1974)
Karya dan karir
Teater
- Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang)
Penulis skenario film
Antara lain:
- Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980)
- Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985)
- Ramadhan dan Ramona
- Dokter Karmila
- Bayang-Bayang Kelabu
- Anak-Anak Bangsa
- Wolter Monginsidi
- Sepasang Merpati
- Telegram
Penulis skenario sinetron
Antara lain:
- Keluarga Rahmat
- Pas
- None
- Warung Tegal
- Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995)
- Jari-Jari Cinta
- Balada Dangdut
- Dendam
- Cerpen Metropolitan
- Plot
- Klop
- Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan)
- Nostalgia
- Api Cinta Antonio Blanco
- Tiada Kata Berpisah
- Intrik
- Pantang Menyerah
- Sejuta Makna dalam Kata
- Nona-Noni
Karya drama
- Dalam Cahaya Bulan (1966)
- Lautan Bernyanyi (1967)
- Bila Malam Bertambah Malam (1970)
- Invalid (1974)
- Tak Sampai Tiga Bulan (1974)
- Anu (1974)
- Aduh (1975)
- Dag-Dig-Dug (1976)
- Gerr (1986)
- Edan
- Hum-Pim-Pah
- Dor
- Blong
- Ayo
- Awas
- Los
- Aum
- Zat
- Tai
- Front
- Aib
- Wah
- Hah
- Jpret
- Aeng
- Aut
- Dar-Dir-Dor
Karya novel
- Bila Malam Bertambah Malam (1971)
- Telegram (1972)
- Stasiun (1977)
- Pabrik (1976)
- Keok (1978)
- Aduh
- Dag-dig-dug
- Edan
- Gres
- Lho (1982)
- Nyali
- Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995)
- Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)
- Dar Der Dor (Grasindo, 1996)
- Aus (Grasindo, 1996)
- Sobat (1981)
- Tiba-Tiba Malam (1977)
- Pol (1987)
- Terror (1991)
- Merdeka (1994)
- Perang (1992)
- Lima (1992)
- Nol (1992)
- Dang Dut (1992)
- Cas-Cis-Cus (1995)
Karya cerpen
- Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978)
- Es (1980)
- Gres (1982)
- Klop
- Bor
- Protes (1994)
- Darah (1995)
- Yel (1995)
- Blok (1994)
- Zig Zag (1996)
- Tidak (1999)
Karya Novelet:
- MS (1977)
- Tak Cukup Sedih (1977)
- Ratu (1977)
- Sah (1977)
Karya esai
Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.
Penghargaan yang telah diterima
- Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta)
- Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
- Pemenang penulisan novel IKAPI
- Pemenang penulisan drama BPTNI
- Pemenang penulisan drama Safari
- Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
- Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
- Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
- Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
- Pemenang penulisan esei DKJ
- Dua kali pemenang penulisan novel Femina
- Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
- Pemenang penulisan cerpen Kartini
- Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
- Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
- SEA Write Award 1980 di Bangkok
- Pemenang penulisan esei Kompas
- Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
- Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
- Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)
Kegiatan lainnya
- Wartawan majalah Ekspres (1969)
- Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
- Wartawan majalah Tempo (1971-1979)
- Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
- Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)
Sumber (http://id.wikipedia.org/wiki/Putu_Wijaya)

 
Putu Wijaya
Posted by:
pojokbiografion:February15,2010