Wednesday, November 30, 2011

Tawa dan Air Mata

Tawa dan Air Mata

Malam menyambutku dengan tawa
Tapi ..
Hati ini menyambutku dengan air mata
Air mata seakan ingin menetes saat tawa datang
Tawa ,,
Air mata ,,
Tawa ,,
Air mata ,,
Tawa dan Air mata ..
Seakan tak pernah hilang dalam hidupku


By : Tri Yuliana Raynandari Amiredja

Pangeran Impian


PANGERAN IMPIAN
Mata dia bagaikan elang yang menusuk di hati
Seakan hati ini tak bisa berkata apapun
Apakah dia adalah calon ku??
Manusia hanya bisa berharap seperti itu
Termasuk ku ..
Ku hanya ingin dia yang selalu ada buat ku bukan orang lain
Kalau pun itu tidak,itupun bukan kehendak ku ..
Tapi kehendak yang diatas..
Ku hanya bisa memohon
Dan berharap permohonanku bisa terwujud..
Walau waktu itu berputar sangat lama
Menunggu menunggu menunggu
Itu yang bisa ku lakukan..

By : Tri Yuliana Raynandari

Sosok Seseorang

Sosok seseorang

Ku di sini tertunduk sendiri
Merenungi malam yang sunyi
Ku di sini terdiam sendiri
Seakan membisu dalam sunyi
Tak ada satupun orang yang bisa menghiburku
Ku butuh seseorang yang bisa menemaniku
Seseorang yang mencintaiku dan menyayangiku
Mungkin ada dalam seseorang itu dalam hidupku
Tapi ..
Tak ada sosok seseorang itu
Yang ku butuhkan setiap waktu
Dimana ku harus mencari sosok itu ??
Ku tak tau ..
Mungkin akan datang pada waktunya ..
Yang ku butuhkan hanya menunggunya ..
Menunggu sosok seseorang itu datang dalam dekapanku ..

By : Tri Yuliana Raynandari Amiredja

Paramore - Decode

How can I decide what's right?
When you're clouding up my mind
I can't win your losing fight all the time
Not gonna ever own what's mine
When you're always taking sides
But you won't take away my pride
No not this time
Not this time

How did we get here?
When I use to know you so well
How did we get here?
Well, I think I know

The truth is hiding in your eyes
And it's hanging on your tongue
Just boiling in my blood,
But you think that I can't see
What kind of man that you are
If you're a man at all
Well, I will figure this one out on my own
On my own ("I'm screaming I love you so")
On my own (My thoughts you can't decode)

How did we get here?
When I use to know you so well, yeah.
How did we get here?
Well, I think I know

Do you see what we've done?
We've gone and made such fools of ourselves
Do you see what we've done?
We've gone and made such fools of ourselves

Yeah
How did we get here?
When I use to know you so well, yeah yeah
How did we get here?
Well, I use to know you so well

I think I know
I think I know
There is something I see in you
It might kill me I want it to be true

Biografi Umar Kayam

Lahir di Ngawi, 30 April 1932. Pertama kali menulis cerpen saat duduk di SMA dan tulisannya dimuat disebuah majalah. Akan tetapi, mulai menulis cerpen secara agak teratur ketika mendapat tugas belajar di Universitas New York dan Universitas Cornell Amerika Serikat, tahun 1961-1965. Cerpennya, Seribu Kunang-kunang di Manhattan terpilih sebagai cerpen terbaik majalah Horison (1986).
Dua noveletnya yang cukup fenomenal dibukukan dalam satu buku, Sri Sumarah dan Bawuk (1975). Kayam pernah menjadi Dirjen Radio Televisi dan Film (1996-1969) dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972). Ia sempat main dalam film Pengkhianatan GS30/PKI memerankan Bung Karno. Kolom-kolomnya dibukukan dalam Mangan ora Mangan Kumpul dan Sugih Tanpa Banda. Tahun 1992 terbit novelnya Para Priyayi. Bukunya The Soul of Indonesia, A Cultural Journey, diterbitkan Losusiana University Press, AS

nyata dan fana

saat semua orang tersenyum hanya aku yang termenung
saat semua orang bahagia hanya aku yang bersedih
semua masalah seperti tak lepas dari hidupku
aku benci ..
aku ingin merubah semuanya
dari yang merenung selalu tersenyum
dari yang bersedih selalu bahagia
aku tahu Tuhan maha adil 
aku tahu Tuhan sayang sama aku
cobaan demi cobaan ku hadapi
setiap masalah selalu aku hadapi
kehidupan nyata yang tak indah
berbanding terbalik dengan kehidupan fana yang indah

Indah yang selalu berujung Luka

aku mencitaimu karena kelemahanmu
aku menyayangimu karena kekuranganmu
tak bisakah kau hargai aku
aku berharap hanya kau dalam hidupku
tapi ..
kau tak peduli seakan-akan ingin pergi
satu persatu harapanku musnah
masihkah aku harus mencintaimu dan menyayangimu
dalam benakku hanya bayang semu seorang kekasih
yang sudah tak mencintai kekasihnya

Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar adalah tokoh populer, sastrawan besar Indonesia. Karya-karyanya sangat mewarnai khasanah kesusasteraan Indonesia dan mengilhami lahirnya sastrawan besar di Indonesia generasi berikutnya, hingga ia dinobatkan sebagai sastrawan pelopor angkatan 45 oleh HB Jasin. Sosok Khairil Anwar dapat dianalogikan sebagai seekor burung yang bebas, merdeka baik dalam berkarya maupun dalam keseharian. Kehidupannya sangat semrawut, mulai dari cara berpakaian maupun pola hidupnya. Tipe sajak yang diciptakannya penuh energi, semangat, dan teriakan lantang. Sajak berjudul “AKU” hingga kini masih menjadi karya monumental Khairil Anwar. Khairil populer dengan julukan “Si Binatang Jalang” . Julukan ini juga di ambil dari salah satu kalimat dalam sajaknya.

Biodata Khairil Anwar
Nama Lengkap Chairil Anwar
Tanggal Lahir 26 Juli 1922
Tempat Lahir Medan, Sumatera Utara
Wafat Jakarta, 28 April 1949
Karya Sastra
  • Deru Campur Debu (1949) 
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949) 
  • Tiga Menguak Takdir (1950) 
  • "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949" 
  • Derai-derai Cemara (1998) 
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948) 
  • Kena Gempur (1951)
Pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
Penghargaan Pelopor sastra modern dan pelopor angkatan 45

Masa kecil khairil Anwar dihabiskan di Medan bersama kedua orang tuanya. Orang tuanya berasal dari kalangan terpandang seorang bupati di Kabupaten Indragiri Riau. Khairil mengenyam pendidikan dasar di HIS (Hollandsch-Inlandsche School)kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Khairil mengenal dunia sastra sejak tinggal di Jakarta bersama ibunya. Saat itu kedua orang tuanya bercerai dan khairil mengikuti ibunya. Ia banyak membaca karya-karya sastrawan dunia seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron, sehingga karya-karya khairil banyak dipengaruhi gaya penulisan sastraean-sastrawan tersebut. 

Nama besar Khairil Anwar mulai mengorbit setelah karyanya dipublikasikan di majalah Nisan. Puisi Khairil banyak bercerita tentang kehidupan, kematian dengan gaya bahasa yang tegas serta tidak mengikuti pakem penyusunan puisi. Semua tulisan Khairil kemudian dibukukan dalam berbagai antologi puiri serta banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris, prancis dan spanyol. Akibat pola hidup yang tidak teratur, khairil kemudian terkena penyakit TBC dan akhirnya meninggal di usia sangat muda (26 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Bivak. Hingga kini makam khairil dikunjungi ribuan orang terutama para pengagum karya-karyanya.

Thanks to wikipedia